Tonetto Gagal, Pupuslah Harapan Italiano

tonetto-reutersLAYAR KACA : Setelah babak penyisihan Piala Champions Eropa alias Liga Champions yang mempertemukan tim-tim Sepakbola yang menduduki peringkat klasemen teratas dari perwakilan negara-negara Eropa tidak terlalu menghasilkan kejutan, salah satu Negara penyihir dunia lewat sepakbola indahnya dan sekaligus bisa bernafas lega adalah negeri Pizza alias Italia.

Betapa tidak lega, karena 3 tim yang saat ini juga masih dominan dalam kompetisi dalam negeri bercokol di klasemen atas masuk ke babak knock-out alias perdelapan final pertandingan liga Champions Eropa tersebut.

Memasuki babak penentuan ke perempat final dengan sistem home dan away terebut, nafas lega dari pecinta bola Italiano tersebut seakan seperti kena ‘asma’ dengan bergugurannya satu demi satu tim-tim  Italia yang menjadi wakil negaranya di kompetisi Liga Eropa tersebut.

Tim pertama yang dipaksa menangis didepan publik sendiri adalah Si Nyonya Tua, julukan Juventus. Puluhan ribu Juventini meneteskan air mata karena kegagalan tim kesayangan mereka karena ditahan imbang 2-2 oleh ‘The Blues’ Chelsea dibawah racikan sang entrenador dari negeri Kincir Angin Guus Hiddink. Pada pertandingan sebelumnya Juventus kalah tipis 0-1 di stadion Stamford Brigde.

Gertakan pertama tersebut seakan pertanda bahwa tahun ini, Italia tidak akan mengirimkan wakilnya sampai semifinal atau bahkan perempat final, suatu kenyataan terburuk dalam beberapa dekade terakhir karena wakil Italia paling tidak sampai ke perempatfinal sebelumnya.

Setelah Juventus kalah, tidak kalah menyakitkan pula lagi, giliran sang pimpinan klasemen sementara Internazionale Milano juga dibabat oleh Cristiano Ronaldo dkk di pertandingan away. Skor 2-0 pun menjadi cerita menyakitkan bagi Internisti. Selang beberapa saat karena skor  kemengan 1-0 yang ditorehkan AS Roma yang juga berhadapan dengan Tim Britania Raya, The Gunners Arsenal juga tidak sanggup otomatis memberangkatkan Totti dkk ke babak selanjutnya. Karena skor sama kuat dengan sistem kandang dan tandang. Waktu perpanjanganpun menjadikan seluruh publik Italia tertuju kepada satu-satunya wakil Italia yang masih berjuang mempertaruhkan nama besar Italia dalam dunia persepakbolaan.

Waktu perpanjanganpun habis dengan hasil yang sama sehingga penentuan harus ditentukan dengan penalty shots out. Tak bisa dibayangkan betapa berdebar-debarnya seluruh pendukung AS Roma di stadion Olimpico Ibukota Negeri Pizza tersebut bahkan diseluruh dunia yang meletakkan kekerabatan sepakbolanya dengan Italia menunggu hasil penalty tersebut.

Eksekutor pertama sampai keenam dari kedua tim seakan tidak menemui palang penghalang bola dan semuanya masuk tanpa terhalau sedikitpun. Giliran eksekutor ketujuh disinilah terjadi cerita yang maha dahsyat diseantero Italia bahkan seluruh dunia. Ada apa dengan angka 7 jika dikaitkan dengan AS Roma. Begitu juga Nomor punggung 22 yang dikenakan oleh Max Tonetto sang algojo terakhir yang melambungkan bola sehingga tidak menemui sasarannya?

Perbincangan itupun saat ini masih membahana kebenak setiap orang yang menginginkan Liga Champions tersebut mempertemukan tim-tim terbaik masing-masing Negara yang telah menunjukkan prestasi lua biasa sebelumnya dengan prestasi-prestasi gemilang.

(*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: