Bis Pilot Project (BPP), Dulu Dicerca Sekarang Dipuja

Rudy di Halte Simpang Jam, f;toySIMPANG LAMPU MERAH : Aksesibilitas tarnsportasi dan ketersediaan sarana-sarana pendukungnya dalam sebuah kota mengidentikkan kota tersebut sebagai sebuah kota yang progrssif karena dengan infrastruktur tersebut, sektor-sektor lain dapat digerakkan secara simultan sesuai dengan karakterisitik bidangnya masing-masing.

Khusus di Kota Batam, yang telah diuber ke dunia internasional sebagai ladangnya industri manufaktur, gudangnya alih kapal dan berjejalnya transaksi perdagangan lintas batas serta surganya pariwisata domestik dan mancanegara dalam spesifik tertentu, tentu sangat berkaitan dengan ketersediaan sarana transportasi di bumi berbentuk kalajengking ini.

Beberapa ahli transportasi yang sudah menginjakkan kakinya di Batam juga menyebutkan kondisi Batam sangat mendukung dalam penyediaan transportasi massal, nyaman dan murah sejenis mass rapid transportation alias MRT di negeri transito Singapurlah kata orang-orang tuh.

Sejak tahun 2006 lalu, Pemko Batam berkesempatan mendekatkan konsep MRT-nya negara berkembang dengan penyediaan Bis Pilot Project dengan fasilitas khusus pula, tak berselang lama banyak celaan dialamatkan kepada pihak Pemko Batam yang hanya buang-buang anggaran dalam mendukung BPP tersebut, akan tetapi prject ini bukanlah murni dukungan APBD Kota Batam, akan tetapi ada juga APBN dan bantuan pihak Japan Urban Transportation sehingga program ini berjalan saja mengikuti gerak roda yang sudah terlanjur siap bergulir.

Alih-alih punah, 2 tahun berselah ternyata kondisi dilapangan berkata lain, BPP yang dulu dicerca, sekarang malah menjadi primadona para penumpang di 2 rute yang sudah tersedia, baik batu aji- batam centre maupun Batam centre Sekupang.

Konsep pengembangan transportasi yang murah, nyaman dan teratur tersebut perlahan dan pasti sedikit memaksa warga Batam yang saat ini terhimpit krisis ekonomi. Akan tetapi lambat laun sepertinya keinginan Pemko Batam telah merasuk jiwa dan pola pikir para warga Batam untuk bertindak sesuai aturan dan rambu-rambu yang ada. Seperti penerapan BPP ini, penumpang yang akan naik dan turun tidak bisa disembarang tempat melainkan di halte khusus yang telah disediakan. Sehingga praktis kebiasaan lama yang turun dan naik disembarang tempat dapat diminimalisir secara bertahap.

Pemko Batam tentu sangat berkepentingan dalam mengubah pola pikir dan budaya warganya dari sikap apatis menjadi masyarakat yang adaptif rensponsif sehingga berbagai program pemerintah yang akan dipolarisasikan dengan partisipasi warga dapat terwujud secara baik dan harmonis. We Hope It Realize Together.

(*titan)

2 Comments »

  1. abdul gamal Said:

    benar juga pak, tapi sayang lalu lintas batam paling kacau dan aneh di dunia, angkot bisa seenaknya ngambil penumpang dan berhenti di tengah jalan, nyalip sembarangan. Supir angkot juga tidak ada etika, rebutan penumpang sesama supir. Dikota-kota lain gak ada yang seperti ini

    Ma kasih bung Abdul Gamal atas kunjungannya. He he he biasalah para sopir kita yang ngejar setoran dsb….. Tapi perlahan dan pasti secara bertahap akan dibenahi. Semua hal yg bapak sebut itu pasti terkait dengan sistem transportasi yang terpadu, tegas dan tak kenal kompromi alias neko-neko.

  2. heru Said:

    semoga kinerjanya bisa ditingakatkan lagi dan jumlahnya bisa ditambah :)

    Ya ya ya…. Ma kasih mas Heru udeh mampir. Kayaknye Dishub Batam mau nambah lagi jumlah armada BPP nya serta perbaikan halte nya paling tidak nyaman untuk tempat menunggu giliran ya nggak….


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: