Antara Harapan, Penantian dan Kenyataan Sebagai Abdi Negara

Saat ke P. Air kec. Bulang

Saat ke P. Air kec. Bulang

BATAM : Pengabdian terhadap Bangsa dan Negara memang merupakan tanggung jawab moral setiap warga Negara dimana dia selama hidupnya telah diberi pengayoman, keleluasaan bahkan kebebasan lainnya dibanding kondisi suatu bangsa yang belum merdeka. Pengabdian tersebut memang tidak mempunyai batas yang jelas bahkan ketika seseorang mengabdikan harta, benda bahkan nyawanya untuk kemerdekaan suatu Negara, sebagian dari mereka disematkan panggilan yang sangat membanggakan yaitu Pahlawan Kusuma Bangsa atau apatah sebutan lain yang mendirikan bulu kuduk.

Dalam perkembangannya, pola fikir dan gaya hidup masyarakat penerus bangsa yang telah merdeka tersebut juga mengalami dekadensi yang sangat tergantung kepada pola asah, asih dan asuh yang didapatnya ketika masyarakat tersebut masih belia dan dalam kedewasaannya apa yang diserapnya sebelumnya  akan dipancarkannya pula sebagai jati dirinya.

Nah, setelah 63 tahun Indonesia merdeka dan dinyatakan sebagai Negara yang berdaulat serta diakui oleh bangsa-bangsa lain, kondisi lintas sektoral masyarakatnya masih banyak yang masih termarginalisasikan bahkan kurang diperhatikan. Entah siapa yang kurang memperhatikan juga tidak jelas dan entah apa yang akan diperhatikan juga belum jelas. Tapi kenyataan yang dapat dilihat secara langsung dapat digoreskan di laman ini sebagai kondisi actual serta membutuhkan solusi untuk masa depan anak bangsa serta generasi selanjutnya.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah Pemerintah Daerah otonom memberikan tunjangan hari tua (THT) sebagai salah satu  jaminan hari tua bagi para pegawai yang sudah purna bhakti kepada para pensiunan PNS yang telah mengabdi sebagai abdi Negara dan abdi masyarakat.

Peraturan kepegawaian yang mengikat mereka selama menekuni abdi Negara tersebut tak perlu dipertanyakan lagi keketatannya sehingga praktis selama pengabdiannya tersebut para abdi Negara tersebut hanya mendapatkan gaji mereka setiap bulannya yang cukup untuk kebutuhan pokok keluarganya saja dan sedikit tabunganlah untuk masa depan anak-anak mereka.

Praktis setelah purna bhakti, para abdi Negara tersebut akan menerima uang pensiunan  yang jauh lebih kecil dari gaji pokok yang diterima sewaktu masih bekerja, hal ini sudah menjadi hukum alam dan sudah sewajarnya seperti itu karena sudah purna tugas. Akan tetapi permasalahannya yang muncul adalah tetes keringat yang selama ini menempel dibadan saat mengabdi, dan pada saat mengakhiri pengabdiannya berganti dengan tetes air mata yang sarat makna dan filosofi.

Bagaimana nasib anggota keluarga yang selama ini ditanggung olehnya? Bagaimana juga sisa hari tua saya yang terbayang menjadi orang tua jompo tanpa ada yang mengurus? Akankah nasib serupa yang saya alami ini juga akan menimpa suksesor saya yang saat ini masih aktif sebagai abdi Negara?

Jawaban-jawaban yang tersusun rapi dari benak kita masing-masing saat goresan ini anda baca juga sangat tergantung dengan pola fikir, kapasitas personal serta latar belakang kependidikanan saudara-saudara sehingga ‘Smile is Never End’ juga akan menghiasai para generasi abdi Negara berikutnya.

(*titan)

1 Comment »

  1. […] Antara Harapan, Penantian dan Kenyataan Sebagai Abdi Negara October 8, 2008 3:56 pm admin Dari Blogger – Agreegator Dari https://pintubatam.wordpress.com/2008/10/08/antara-harapan-penantian-dan-kenyataan-sebagai-abdi-negar… […]


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: