SEJAK kita paham dengan perkataan yang sudah sangat populer diseluruh dunia bahkan telah didekatkan dengan seluruh lapisan masyarakat dunia dengan keragaman bahasnya yaitu Happy New Year atau Selamat Tahun Baru dalam bahasa Pertiwiku, entah sudah berapa kali kita mengucapkannya, merayakannya atau bahkan menyaksikan hingar-bingar perayaan yang ditandai dengan berbagai acara atau kemeriahan dengan kolaborasi seni, budaya bahkan gengsi sebuah komunitas sampai peradaban suku bangsa tertentu atau bahkan kekhusukan dalam sebuah keluarga kecil yang memaknai Selamat Tahun Baru tersebut dengan mengadakan acara kecil nan sederhana didalam rumah tepat pada pukul 00.00 wib untuk berdoa bersama2 seluruh anggota keluarga serta menyampaikan permintaan maaf antara satu anggota keluarga dengan anggota keluarga lainnya yang diakhiri dengan saling memaafkan dengan salam-salaman dan pelukan yang hangat bahkan meneteskan airmata sembari meminta maaf kepada kedua orangtuanya.
Apa yang kita petik dengan beragam aktifitas dan perayaan tersebut? Atau paling tidak adakah itu hanya sebagai rutinitas belaka yang jika tidak kita lakukan, maka kita akan dicemooh oleh orang lain yang tetap merayakannya. Atau kita akan ditertawakan sebagai sebuah kaum yang tidak mengikuti perkembangan Zaman.
Memang indah jika sebuah pergantian tahun kita jadikan sebagai sebuah momen untuk melakukan refleksi terhadap apa yang kita perbuat, apa yang kita kerjakan atau apa yang kita jalani selama satu tahun belakangan sebelum pergantian tahun tersebut kita rayakan.
Tapi jauh lebih indah, jika semua momen tersebut kita maknai sebagi upaya mengevaluasi kekurangan kita dari sudut kacamata yang berbeda sehingga kita dapat melakukan hal yang berbeda dan lebih baik dari yang sebelumnya.
SELAMAT TAHUN BARU 2012.



